Selasa, 25 Juni 2013
Untitle
mungkin kelam mengambil alih setiap rasa, setiap kata,
lalu apa guna pelangi?
pelangi takkan pernah hadir saat malam tiba.
Maka berikan aku cawan yang terisi air kehidupan,
oh tidak, berikan aku cawan kosong,
akan ku isi dengan air yang kumiliki,
entah, akan memberikan kehidupan atau kematian,
setidaknya ia adalah air ku, pemberian ku.
Dan aku lumat saja setiap rasa,
pada setiap gigitan yang tertera.
Kala waktu yang terlambat tiba,
pada kata yang terucap sudah.
Kertas kosong terisi sudah,
bukan hanya kelam, juga bukan pelangi yang menghiasi,
seperti abu, selepas menghangatkan para pengembara,
bukan kelam bukan pula warna mentari,
seperti hati yang mati, beku tanpa darah.
Jumat, 29 Maret 2013
Aku dan Tenang
Aku mencari tenang pada bayang,
pada malam seribu bintang.
Dilangit tak kulihat awan-awan,
yang biasa menutupi cahaya terang
Aku binasa,
pada sebuah simpul tanya,
yang tak pernah bisa ku rajut menjadi C I N T A
Padamkan lentera disekelilingku,
karena aku ingin tenang bukannya terang,
aku tenang pada pekatnya malam.
terima kasih sudah berkunjung :)
foto : koleksi pribadi
Jumat, 22 Maret 2013
LOVE movie
Apa yang kita ingat
Dari kenangan -kenangan yang terekam oleh kita
Nama tempat, nama Permainan, nama Teman atau kejadian ....
Adalah hal-hal yang mungkin lambat laun bisa terlupakan
Tapi tidak dengan rasa ,
Rasa senang, rasa sedih,
Yang akan terus kita bawa
Tanpa mudah tercecer di sepanjang perjalanan kita
Dan semakin kita dewasa
Kita menyadari bahwa diantara kenangan-kenangan tersebut
Ada rasa yang paling besar
Yaitu Cinta ....
Karena ketika satu per satu cerita berhenti
dan menjadi kenangan
Cinta terus bergerak
Seiring harapan
Yang menyertai dia
Cinta yang tak terlihat oleh mata
Tak teraba oleh tangan
tapi dia ada ...
Bahkan sejak kita belum bisa mengucapkannya
Cinta yang sejati
Cinta yang ketika kira sudah pergi
Ternyata cuma bersembunyi
Menunggu untuk kembali lagi .....
Terima kasih sudah berkunjung :)Aku adalah kunang-kunang
Dalam gelap aku terbang
Dalam gelap aku terang
Dan jadikanlah kau senja
Karena gelap kau ada
Karena gelap kau indah
Aku hanyalah kunang-kunang
Dan kau hanyalah senja
Dalam gelap kita berbagi
Dalam gelap kita abadi.
*pict by google
Rabu, 27 Februari 2013
Tentang Senja :photo upload:
Foto ini diambil di kota kelahiran saya, Balikpapan, Kalimantan Timur. Disebuah kafe pinggir pantai menyajikan 'view' laut yang indah, terlebih lagi saat senja, bersama kawan. Berikut juga terlampir juga twit-twit di twitter @luk2hambali tentang senja. :) . Just enjoy ?!.
Bukan jingga yang membuat indah, bukan pula merona menunggu malam, senja adalah kita yang menyanjungnya. #PuisiSenja
Jangan berhenti menari dibawah mentari, hingga senja menuntun pulang. Langkahkan kaki kecil menuju alam dingin, sedingin hati malam #puisiSenja
Semesta ku menari riang,menyambut senja datang cemerlang,riuh ruah bersama bayang memanjang. #PuisiSenja
Jiwa yang terbang melayang hilang kembali kedalam bayang,namun bukan raga ku, aku menjadi bayang mu, hingga mentari menyala jingga. #PuisiSenja
Siluet ku hampir padam termakan malam,bersamamu senja, ku tunggu sebuah senyum datang. #PuisiSenja
Senja tak datang hari ini,ia menjadi rinai dalam rintik hujan pelangi. #PuisiSenja
Rabu, 19 Desember 2012
Tentang Senja
Kau hadir bagai senja,
yang datang sesaat, hanya memberi kabar bahwa malam akan tiba,
namun bias mu masih tersimpan, dalam.
Apakah aku bisa memiliku mu, senja? yang datang dan pergi sesuka hati,
engkau bebas, dan kau yang menyatukan siang dan malam ku,
dengan senyum merona sejingga senja.
Dimana kau bersembunyi saat malam tiba, senja?
dibalik malamkah atau memutari dunia ?
Izinkan aku menjadi duniamu, agar kau selalu hadir dalam dekap hangat mentari.
Kau datang hanya untuk menyatakan bahwa aku harus pulang,
beristirahat setelah penat, kemudian lenyap.
Aku ingin kau ada di sisi saat ku membuka mata,
saat mentari menyambut pagi”.
***
“Senja begitu indah ya?” kata ku pada seorang wanita yang menatap lekat ke arah matahari yang sedang mencoba untuk tenggelam, bukan sebuah pertanyaan, namun lebih pada sebuah peryataan.
Sedetik, lima detik, lima belas menit, tiada jawaban. Dia masih saja menatap matahari yang telah sepenuhnya tenggelam berganti malam, dan aku masih saja berdiri disampingnya, meminum habis jus alpukat yang kupesan sebelumnya.
“Haus ya?” suara itu menghentikanku berkutat pada gelas plastik sisa jus, wajah itu menatapku.
“Mungkin, karena lelah menunggu” jawab ku, serasa aliran darah berhenti dan tertahan diwajahku, panas, mungkin membara.
“menunggu siapa?”
“menunggu ruh pulang kembali ke jasad kaku disampingku, yang tak hentinya menatap senja”
Dia diam, seperti ada awan hitam dimatanya yang mungkin sebentar lagi awan itu menurunkan hujan.
“senja itu indah ya?” kataku sambil memalingkan wajah ke cahaya kecil ditengah laut, pada kapal yang sedang berlayar.
“dan menyimpan banyak kenangan” jawabnya
“namaku Andhika”
“namaku Senja”
“nama yang unik, nama lengkapnya siapa?”
“Anjani Senja Rahmadhani”
“Andhika Kameswara Muda”
Sebuah perkenalan yang singkat, dari senja yang merona, tanpa jabat tangan.
***
Kemudian aku dan senja-yang lebih nyaman dipanggil Anjani- lebih sering bertatap muka, kadang aku mengajaknya sekedar menyapa senja ditempat pertama bertemu atau dia yang mengajak untuk menonton film terbaru di Bioskop. Namun kami lebih sering menyapa lewat telpon atau berkirim pesan singkat sekedar bertanya sudah makan atau belum.Kedekatan kami melewati hitungan hari, minggu, bulan, dan tahun, bahkan melewati berbagai musim, dari musim durian, musim rambutan, musim haji, hingga musim kawin. Bagiku, ingin segera turut serta pada musim yang terakhir kusebut.
“kenapa kamu suka senja?” tanyaku pada suatu sore disebuah kafe pinggir laut.
“menurut kamu, kebebasan itu apa?"
“……”
“apakah kita bisa memilih untuk hidup bebas? padahal kita terikat pada aturan dan norma-norma”
“hidup itu pilihan”
“jika hidup itu pilihan, lalu bagaimana dengan takdir? jika jalan hidup itu telah ditentukan, apakah ada pilihan yang lain?”
Aku terdiam, karena aku rasa pertanyaan itu bukan ditujukan untuk ku, tapi untuk yang lain.
Senja mulai menampakkan wajah ayunya di ufuk barat, merona dengan tambahan pelangi, mungkin sedang hujan di seberang sana, senja semakin terlihat indah, seperti lukisan abadi di kanvas lukis Tuhan. Ya, Tuhan, kepada Dia lah pertanyaan itu diajukan.
***
Pekerjaan semakin padat, menguras tenaga dan pikiran, ditambah lagi teman kerja yang tidak membantu sama sekali, sibuk mengejar pendapatannya sendiri dari usaha sampingannya, lalu lupa tugas utamanya. Sudah waktunya mencari tantangan yang lain dengan pendapatan yang lebih baik, yang lebih menghargai setiap tetes keringat dan pikiran yang terpakai dan terbuang, waktunya mengajukan pengunduran diri.
Berdasarkan informasi dari seorang kawan, berangkatlah aku untuk interview pekerjaan diluar kota, dan setelah hampir sebulan menganggur, akhirnya jawaban hasil interview kemarin melalui e-mail ku yang menyatakan bahwa saya diterima untuk ditempatkan diperusahaan di luar negeri, dan mereka meminta untuk menyiapkan segala data yang dibutuhkan dibantu oleh perusahaan tersebut.
Lebih dari tiga minggu segala urusan pemberangkatan berjalan dengan baik, tiket pesawat sudah ditangan, dan tiga hari kedepan aku sudah harus meninggalkan kota dan Negara ini tercinta ini.
Fajar baru saja menyingsing, menyisihkan kabut dan embun pagi didedaunan taman, udara segar merasuk sampai keparu, yang tergantikan dengan karbondioksida sempurna melalui pernafasan.
Aku berlari kecil dipinggir jalan di kampung tempat aku dilahirkan, begitu tenang, hanya sesekali kendaraan berlalu lalang pelan, sisanya Ibu-ibu yang berjalan menuju pasar. Hari masih pagi, namun aku sudah merindukan senja. Ku rogoh kantung celana untung mengambil handphone dan mencari sebuah nama, Anjani Senja Rahmadhani.
“Assalamu’alaikum” suara wanita melalui speaker telpon
“wa ‘alaikum salam”
“pasti kamu sedang rindu sama aku ya, Dhika? soalnya pagi-pagi gini sudah nelpon”
“hehe..,mmm…sore ini ada waktu? ditempat biasa, aku jemput?”
“oke, tapi gak usah di jemput, soalnya aku ada urusan sebentar, tunggu aja disana, aku agak telat ya?!”
“no problem”
“see ya”
Senja telah usai, hanya tersisa suara ombak dan angin yang menderu mendera pantai dan karang, namun Senja yang ku tunggu belum juga datang. Ini gelas yang ketiga dari jus alpukat yang kupesan dari café ini.
Sebuah pesan singkat masuk ke hp ku, tertulis dari Anjani Senja Rahmadhani, senja yang ku tunggu.
Dhika maaf, aku gak bisa datang, ada urusan keluarga yg sangat mendadak, maaf bgt ya ?.
Ku hela nafas panjang dan menjawab pesan singkat tersebut,
iya gak pa2, aq Cuma mau pamitan, bsok aq brngkat ke luar negri, dpt kerja yg lain,mungkn utk bbrp tahun, bye Senja.
Tak ada jawaban kembali, dan aku pun meluncur pulang.
***
Dua tahun berlalu, sejak aku meninggalkan Indonesia tercinta dan juga Senja. Masa kerja sudah terpenuhi, modal sudah terkumpul, sudah waktunya mandiri, membuka usaha sendiri, tidak besar, namun cukup untuk aku dan keluarga ku, saatnya untuk berumah tangga.
Udara di Indonesia sangat berbeda, menenangkan, menyegarkan. Setelah beristirahat penuh kemaren, hari ini aku ingin segera menemui Senja. Setelah pesan singkat terakhir dua tahun yang lalu, tidak ada kabar lagi darinya, nomor telpon nya pun tidak bisa dihubungi. Dimana kau Senja ?
"Dua tahun yang lalu Anjani sudah menikah, nak Andhika. Sekarang sudah punya anak satu, laki-laki, dia tinggal sama suaminya, agak jauh dari sini” Ibu senja menjelaskan keberadaan anaknya saat aku bertandang kerumahnya dan menanyakan tentang Senja.
“Nak Dika kemana aja, kok gak pernah keliatan, sudah lama lho gak mampir kemari” Ibu Senja melanjutkan tanya
“maaf bu, saya gak memberi kabar sebelumnya, tapi saya sudah kasih tau ke Anjani kalau saya akan berangkat ke luar negeri buat kerja,lewat sms sih bu, mungkin dia lupa kasih tau ke ibu”
“kalo gak salah waktu itu Anjani pernah bilang, hp dia hilang waktu jemput keluarga jauh yang datang dari luar kota buat ngelamar dia”
“baiklah bu, saya pamit dulu, salam aja sama Anjani” aku mengakhiri kunjungan sore itu, sepertinya hari mau hujan, karena kulihat mendung dan berkabut, mungkin mata ku kemasukan debu.
***
“senja begitu indah ya?” kata seorang wanita yang berdiri disamping ku, membangunkanku dari lamunan tentang Senja, tentang merona ku yang semakin jingga saat pertemuan pertama.
“indah dan menyimpan banyak cerita” jawabku pelan
“memandangnya seakan bebas, seperti burung yang terbang pulang menuju sarang”
"apakah kita bisa memilih untuk hidup bebas?”
“hidup itu pilihan”
“jika hidup itu pilihan, lalu bagaimana dengan takdir? jika hidup itu telah ditentukan apakah ada pilihan yang lain?”
"..."
“namaku Maya”
“aku Andhika”Perkenalan yang singkat tanpa jabat tangan.
END
Senin, 17 Desember 2012
CERITA MALAM
Karena seribu bunga merindukan belai lembut tetes nirwana,
Jangan hadang badai datang,
Karena setelahnya, setelah porak poranda, ada kedamaian dalam diam mencapai jiwa.
Waktu mungkin mengalahkan raja,
Mencari celah saat ajal terlambat tiba,
“Aku adalah raja, laksana dewa tak kenal nama”
Namun waktu datang jua, saat selir raja telanjang dada,
“ini raga mau kemana? Lusuh tak berpenghuni nafas samudra”
“bakar saja dengan membara, karena dewa tidak butuh seorang raja”.
Maka hilang segala bentuk,
Hujan meninggalkan genangan dan kenangan,
Badai meninggalkan tangis juga hayalan.
Dan turunlah malaikat malam,
Membawa kabar bahwa terang selalu bersama bayang.
Lalu kenapa harus bimbang?
Surya berpijar selalu dengan kabar,
Saat embun menyapa fajar,
Begitu pula hening malam,
Saat senja berlabuh pandang.
Jumat, 19 Oktober 2012
Lilin Redup
Hari ini ( 19 Oktober 2012) usia saya genap 27 tahun, alhamdulillah atas segala kesempatan bertamasya di dunia ini, alhamdulillah diumur segini telah diberikan hidayah untuk dipertemukan dengan Pengetahuan Tuhan Allah Ta'ala yang Maha Luas,
dan dipertemukan dengan Nya, dengan segala itu pantaskah saya untuk tidak bersyukur?
Membahagiakan orang tua, itu yang belum saya lakukan, banyak hal yang belum saya lakukan ternyata, membahagiakan orang tua itu salah satunya. Maka, disinilah saya berada sekarang, dinegeri asing, dinegeri para nabi, sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang Raja (saya sendiri tidak tahu kapan dan kenapa negeri ini menjadi sebuah kerajaan), saya berada di KSA, Kingdom of Saudi Arabia, Arab Saudi.
Senin, 09 Agustus 2010
GURINDAM 12
Kompleks makam keluarga Haji Ahmad di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang
Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis ("Bingkisan Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan.
Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada 5 November tahun 2004. Berikut ini adalah syair dari Gurindam 12, yang berisi 12 petuah-petuah kehidupan :
Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama,sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang ma'rifat Barang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari. Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang terpedaya. Barang siapa mengenal akhirat,tahulah ia dunia melarat.
Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang. Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya. Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.
Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
Gurindam XII
Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
(reffensi : www.wikipedia.org
#FFRabu - Kala Adam Pemakan Daging
“Makanan ini enak sekali, apa kau meminta kepada Tuhan?” Tanya Hawa pada Adam. “Mungkin ini makanan terakhir kita di Surga, aku telah ...
-
“Makanan ini enak sekali, apa kau meminta kepada Tuhan?” Tanya Hawa pada Adam. “Mungkin ini makanan terakhir kita di Surga, aku telah ...
-
Gambar diambil dari http://mackosmetikasli.com/blog/mac-cosmetic “Mengapa Ibu memperbolehkan anak ibu yang masih SD menggunakan perala...
-
Aku mencari tenang pada bayang, pada malam seribu bintang. Dilangit tak kulihat awan-awan, yang biasa menutupi cahaya terang Aku binas...

